JEPANGUPDATES.COM — Jepang yang tengah menghadapi penurunan populasi dan krisis tenaga kerja di berbagai sektor kini mulai membuka peluang bagi tenaga kerja asing, termasuk di industri transportasi.
Melalui program Specified Skilled Worker (SSW), pemerintah Jepang telah memperluas izin kerja bagi pekerja asing di bidang transportasi seperti bus, truk, dan taksi.
Dalam waktu dekat, Jepang akan mencetak sejarah baru. Seorang wanita asal Indonesia dijadwalkan menjadi sopir bus wanita asing pertama di negara tersebut, dengan debut yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan Maret.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wanita tersebut, Mahatomi Rismartanti (26), saat ini tengah menyelesaikan tahap akhir pelatihan di perusahaan Tokyu Bus yang berbasis di Tokyo. Dalam proses pelatihannya, ia harus menguasai berbagai prosedur keselamatan ketat yang menjadi standar di Jepang, seperti pengecekan spion secara menyeluruh serta teknik penunjukan dan konfirmasi untuk memastikan keamanan selama berkendara.
Sejak Januari, Mahatomi juga telah menjalani pelatihan langsung di jalan raya dengan didampingi instruktur, menjalankan rute bus layaknya kondisi kerja sebenarnya. Menjelang jadwal debutnya, ia mulai merasakan ketegangan meskipun dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum.
Mahatomi berasal dari keluarga petani di Jawa Timur. Sejak kecil, ia terbiasa melihat ibunya mengangkut hasil panen menggunakan kendaraan besar, yang kemudian menumbuhkan ketertarikannya terhadap dunia transportasi.
Ia juga merupakan penggemar budaya Jepang sejak kecil, termasuk anime seperti Doraemon, hingga akhirnya memilih jurusan Sastra Jepang saat kuliah dan menulis skripsi tentang film Kimi no Na wa.
Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai karyawan perusahaan dan pengajar bahasa Jepang sebelum akhirnya memutuskan mencoba peluang menjadi sopir bus di Jepang. Ia berhasil lulus ujian keterampilan khusus di bidang transportasi serta tes kemampuan bahasa Jepang, kemudian menjalani pelatihan tambahan sebelum tiba di Jepang pada September tahun lalu.
Di Jepang, ia memperoleh lisensi mengemudi kendaraan besar dan terus menjalani pelatihan intensif, baik teori maupun praktik, termasuk keselamatan berkendara dan pelayanan penumpang. Ia mengaku tantangan terbesar adalah mempelajari istilah-istilah teknis dalam industri transportasi, namun tetap bertekad memberikan pelayanan terbaik.
“Saya ingin memberikan keamanan dan senyuman kepada penumpang bus,” ujarnya.
Selain Mahatomi, Tokyu Bus juga merekrut dua pria asal Indonesia sebagai bagian dari gelombang pertama tenaga kerja asing di sektor ini. Perusahaan tersebut bahkan menargetkan sekitar 10 persen pengemudinya di masa depan berasal dari tenaga kerja asing untuk mengatasi kekurangan sopir yang semakin parah.
Secara nasional, Jepang telah menetapkan target penerimaan tenaga kerja asing hingga ratusan ribu orang di berbagai sektor hingga tahun 2028, termasuk puluhan ribu di bidang transportasi.
Krisis tenaga kerja yang berkepanjangan bahkan telah menyebabkan sejumlah rute bus dikurangi hingga dihentikan di berbagai daerah.
Masuknya tenaga kerja asing melalui program SSW menjadi langkah strategis pemerintah Jepang untuk menjaga keberlangsungan layanan transportasi publik.
Kehadiran Mahatomi pun bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak pekerja Indonesia untuk berkarier di Jepang di masa depan.












